Verihubs Logo
Home Blog Deep Learning 101: 4 Jenis Algoritma dan Penerapannya dalam Industri
9 min read • Face Recognition • Published on November 14, 2022

Deep Learning 101: 4 Jenis Algoritma dan Penerapannya dalam Industri

Deep Learning 101: 4 Jenis Algoritma dan Penerapannya dalam Industri

Deep learning adalah cabang kecerdasan buatan yang meniru cara kerja jaringan saraf otak manusia untuk mengenali pola dari data besar. Algoritma deep learning yang paling banyak digunakan dalam industri mencakup CNN, RNN, LSTM, dan SOM, masing-masing dengan keunggulan berbeda. Dalam konteks bisnis Indonesia, deep learning menjadi fondasi teknologi face recognition dan liveness detection yang digunakan untuk verifikasi identitas pengguna secara real-time.

Baca Juga: Mengenal Jenis, Tujuan, dan 3 Fungsi Pemindai Biometrik

Memahami Apa Itu Deep Learning

deep learning
Sumber: freepik.com

Deep learning sendiri metode pembelajaran mesin berbasis jaringan saraf tiruan berlapis-lapis (deep neural network) yang memungkinkan sistem untuk secara otomatis mengekstrak fitur dari data mentah, tanpa rekayasa fitur manual. Istilah “pembelajaran mendalam” merujuk pada kedalaman lapisan jaringan saraf yang digunakan, bukan kompleksitas data yang diproses. Mulai dari gambar, video, hingga teks, semua akan teridentifikasi secara spesifik untuk kemudian dikenali oleh sistem sebagai entitas data yang sebenarnya.

TeknologiCara BelajarRekayasa FiturContoh Penggunaan
AI (Kecerdasan Buatan)Berbasis aturan atau dataManual atau otomatisChatbot, sistem pakar
Machine LearningBelajar dari data historisManual oleh engineerPrediksi harga, deteksi spam
Deep LearningBelajar representasi bertingkatOtomatis oleh jaringanFace recognition, speech recognition, OCR

Awal pengembangannya sendiri terjadi pada tahun 1950-an lalu, namun baru setelah pengembangan selama 40 tahun, teknologi ini bisa diperkenalkan dengan penerapan yang sukses. Meski demikian teknologi yang digunakan sekarang secara mendasar tak banyak berbeda dengan apa yang digunakan pada era ‘90-an.

Pengembangan utama yang dilakukan adalah pada penyederhanaan model algoritma yang digunakan, sehingga penerapannya menjadi lebih fleksibel dan kemampuan pengenalan datanya semakin baik.

4 Jenis Algoritma Deep Learning

Dalam teknologi deep learning sendiri, terdapat sedikitnya 4 algoritma yang digunakan secara luas. Pertama adalah Convolutional Neural Network atau CNN, kemudian Recurrent Neural  Network atau RNN, Long Short Term Memory Network atau LTSM, dan Self Organizing Maps atau SOM.

Penjelasan keempat jenis algoritma tersebut adalah sebagai berikut.

1. Convolutional Neural Network (CNN): Algoritma Pemrosesan Data Visual

Convolutional Neural Network atau CNN adalah algoritma deep learning yang dioptimalkan untuk memproses data visual seperti gambar dan video. CNN bekerja dengan membagi gambar menjadi segmen kecil, mengekstrak fitur dari setiap segmen (tepi, tekstur, bentuk), lalu menyusunnya secara hierarkis menjadi representasi objek yang dapat diidentifikasi.

Dalam sistem verifikasi identitas, CNN digunakan untuk:

  • Mengenali wajah dari foto selfie atau KTP pengguna
  • Memproses dokumen identitas untuk ekstraksi data otomatis (OCR)
  • Mendeteksi anomali visual dalam proses onboarding digital

Verihubs Face Recognition memanfaatkan arsitektur CNN yang dioptimalkan untuk kondisi pencahayaan dan sudut wajah yang bervariasi, sehingga akurasi verifikasi tetap tinggi meskipun kualitas kamera pengguna berbeda-beda.

2. Recurrent Neural Network (RNN): Algoritma untuk Data Sekuensial dan Historis

Recurrent Neural Network atau RNN adalah algoritma deep learning yang dirancang khusus untuk memproses data berurutan, di mana konteks dari langkah sebelumnya memengaruhi interpretasi langkah berikutnya. RNN memiliki mekanisme “memori” internal yang memungkinkan jaringan mengingat informasi dari input sebelumnya.

RNN banyak digunakan untuk pengenalan suara, analisis teks, dan deteksi pola transaksi secara berurutan dalam sistem fraud detection berbasis perilaku pengguna.

3. Long Short-Term Memory (LSTM): Solusi untuk Ketergantungan Jangka Panjang

Long Short-Term Memory atau LSTM adalah varian lanjutan dari RNN yang dirancang untuk mengatasi kelemahan RNN dalam mengingat informasi jangka panjang. LSTM menggunakan struktur “gerbang” (forget gate, input gate, output gate) yang mengontrol informasi mana yang disimpan, diperbarui, atau dibuang selama pemrosesan.

Dalam konteks keamanan digital, LSTM digunakan untuk menganalisis pola perilaku pengguna sepanjang waktu, membantu sistem mendeteksi anomali seperti percobaan akses mencurigakan berdasarkan pola historis yang panjang.

4. Self-Organizing Maps (SOM): Algoritma Unsupervised untuk Visualisasi Data

Self-Organizing Maps atau SOM adalah algoritma deep learning yang bekerja secara unsupervised, artinya sistem belajar dari data tanpa label yang telah ditentukan sebelumnya. SOM mengurangi dimensi data kompleks menjadi representasi dua dimensi yang dapat divisualisasikan, berguna untuk menemukan klaster atau pola tersembunyi dalam data besar.

SOM digunakan dalam analisis risiko dan segmentasi pengguna, membantu bisnis mengidentifikasi kelompok pengguna dengan profil risiko serupa tanpa perlu melabeli data secara manual terlebih dahulu.

Cara Kerja Algoritma Deep Learning: Dari Input Data hingga Output Prediksi

Memahami cara kerja algoritma deep learning secara umum membantu tim teknologi dan bisnis dalam mengevaluasi kecocokan teknologi ini dengan kebutuhan sistem yang dibangun.

Proses kerja deep learning berlangsung dalam empat tahap utama:

  1. Pengumpulan dan pra-pemrosesan data: Data mentah (gambar, teks, audio) dikumpulkan dan distandarkan agar dapat diproses jaringan. Kualitas data di tahap ini langsung memengaruhi akurasi model akhir.
  2. Propagasi maju (forward propagation): Data melewati setiap lapisan jaringan saraf secara berurutan. Setiap lapisan mengekstrak representasi yang semakin abstrak dari data input, dari fitur dasar (tepi gambar) hingga fitur tingkat tinggi (identitas wajah).
  3. Kalkulasi error dan propagasi balik (backpropagation): Selisih antara prediksi model dan nilai aktual dihitung. Algoritma optimasi (seperti Adam atau SGD) kemudian menyesuaikan bobot jaringan secara iteratif untuk meminimalkan error ini.
  4. Evaluasi dan deployment model: Setelah model mencapai akurasi yang memadai pada data validasi, model dideploy ke sistem produksi untuk melayani prediksi secara real-time.

Salah satu keunggulan deep learning dibanding algoritma machine learning konvensional adalah kemampuannya untuk memproses data tidak terstruktur secara langsung, tanpa rekayasa fitur manual yang memakan waktu.

Sederet Manfaat Deep Learning untuk Dunia Kekinian

deep learning
Sumber: freepik.com

Jika dilihat dari penjelasan singkat di atas, mungkin Anda telah dapat meraba kira-kira apa saja manfaat dari deep learning untuk kehidupan di era modern ini. Beberapa yang terasa sangat nyata antara lain adalah sebagai berikut.

  • Mengoptimalkan kinerja unstructured data dalam aplikasi atau laman web yang dimiliki
  • Memberikan tampilan output yang lebih berkualitas sehingga mudah digunakan
  • Menjadi salah satu teknik pengolahan data yang sangat efektif dan adaptif
  • Menghilangkan kebutuhan akan teknologi untuk rekayasa fitur
  • Menekan biaya operasional pengembangan program
  • Dapat dengan mudah mengenali dan mengidentifikasi wajah atau citra lain yang diperlukan

Contoh Penerapan Teknologi Ini dalam Industri

Disadari atau tidak, penerapan deep learning telah dimulai sejak lama, dan salah satu bentuknya bahkan ada di dalam genggaman Anda. Di dalam smartphone, terdapat fitur pengenalan wajah yang dapat menjadi ‘kunci’ membuat smartphone Anda bukan? Ini adalah salah satu bentuk paling nyata dari deep learning.

Pada konteks lain, bidang verifikasi, deep learning digunakan untuk face recognition pada produk yang digunakan sehingga sistem dapat mengenali, menyimpan, dan mengidentifikasi wajah user untuk melakukan verifikasi lanjutan.

Sistem dapat bekerja dengan membaca karakter di wajah user, kemudian menjadikannya serangkaian kode unik, dan menyimpan data tersebut dengan satu label tertentu. Ketika user ingin melakukan transaksi atau akses masuk, maka face recognition dapat dengan mudah digunakan tanpa harus melalui banyak proses lain.

Baca Juga: 5 Poin Penting Penerapan Kecerdasan Buatan untuk Bisnis Anda 

Kemampuan teknologi ini dalam ‘belajar’ dan ‘mengenal’ data sangat mengesankan, dan dapat dioptimalkan dalam berbagai sektor bisnis dan industri. Jelas, urusan verifikasi menjadi salah satunya, sebab keamanan akses dan validasi identitas akan menjadi hal sangat relevan di era sekarang ini.

Verihubs, Menyediakan Biometric Verification yang Solid untuk Bisnis Anda

Pengenalan wajah atau face recognition menjadi salah satu fitur yang sangat diandalkan oleh Verihubs, dalam produk verifikasi yang dimilikinya. Masuk dalam produk Biometric Verification, bisnis Anda bisa dengan mudah menerapkan pengenalan wajah berbasis deep learning ini sebagai pengaman atas akses dan transaksi yang dilakukan user. Dengan proses yang cepat dan acuan database solid, Verhubs siap menjadi partner Anda untuk segala jenis urusan verifikasi. Segera hubungi layanan pelanggan kami sekarang, dan dapatkan penawaran menariknya!

FAQ: Pertanyaan Paling Sering tentang Algoritma Deep Learning

Apa perbedaan algoritma deep learning dan algoritma machine learning biasa?

Algoritma machine learning tradisional memerlukan rekayasa fitur manual oleh data engineer sebelum data dapat diproses. Algoritma deep learning secara otomatis mengekstrak dan mempelajari representasi fitur dari data mentah melalui lapisan jaringan saraf bertingkat. Akibatnya, deep learning lebih unggul untuk data tidak terstruktur seperti gambar dan audio, sementara machine learning konvensional lebih efisien untuk data tabular terstruktur dengan volume lebih kecil.

Algoritma deep learning apa saja yang paling banyak digunakan di industri?

Empat algoritma deep learning yang paling luas digunakan adalah CNN (Convolutional Neural Network) untuk data visual, RNN (Recurrent Neural Network) untuk data sekuensial, LSTM (Long Short-Term Memory) untuk analisis pola jangka panjang, dan SOM (Self-Organizing Maps) untuk klasterisasi data tanpa label. CNN mendominasi aplikasi verifikasi identitas dan computer vision secara umum.

Apakah deep learning bisa diterapkan di bisnis skala menengah di Indonesia?

Ya. Bisnis skala menengah tidak perlu membangun model deep learning dari nol. Solusi berbasis API seperti Verihubs Identity Verification API menyediakan kemampuan deep learning (face recognition, liveness detection, OCR) yang dapat diintegrasikan ke sistem yang sudah ada dalam hitungan hari, dengan model penetapan harga berbasis penggunaan yang fleksibel.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan deep learning untuk memverifikasi identitas?

Sistem deep learning yang dioptimalkan untuk verifikasi identitas, seperti yang digunakan Verihubs, dapat menyelesaikan proses pencocokan wajah, ekstraksi data dokumen, dan deteksi liveness dalam kurang dari 3 detik per transaksi. Waktu ini jauh lebih singkat dibandingkan verifikasi manual yang rata-rata membutuhkan 3-5 hari kerja untuk proses KYC lengkap.

Apa risiko menggunakan deep learning untuk verifikasi identitas tanpa liveness detection?

Sistem face recognition berbasis deep learning tanpa komponen liveness detection rentan terhadap serangan spoofing, yaitu upaya penipuan menggunakan foto, video, atau topeng 3D untuk menipu sistem. Liveness detection menambahkan lapisan analisis untuk memastikan input berasal dari wajah manusia hidup secara real-time, bukan media statis. Verihubs Liveness Detection tersertifikasi ISO/IEC 30107-3 sebagai standar internasional untuk pencegahan serangan presentasi.

Client Verihubs
Cari tahu seberapa akurat teknologi Face Recognition Verihubs
Coba GRATIS Sekarang
Lihat Blog