Verihubs Logo
Home Blog Deepfake Bank: Ancaman Baru Keamanan Finansial di Era AI
Published on August 29, 2025

Deepfake Bank: Ancaman Baru Keamanan Finansial di Era AI

Deepfake Bank: Ancaman Baru Keamanan Finansial di Era AI

Dulu, mungkin kamu mikir, “AI itu keren ya, bisa bantu macem-macem.” Tapi sekarang, AI juga jadi masalah serius, kayak fenomena deepfake bank, di mana teknologi canggih itu digunakan untuk menipu sistem keamanan perbankan, termasuk verifikasi wajah, pengenalan suara (voice authentication), atau proses KYC digital.

Contohnya? Di Hong Kong, seorang karyawan terkecoh setelah mengikuti video conference yang ternyata adalah deepfake, imajinernya itu “bos”nya yang minta transfer besar, hasilnya: perusahaan kehilangan US$25 juta Reality Defender. Gak cuma sekali, laporan terakhir dari Deloitte memperkirakan bahwa kerugian akibat deepfake di perbankan AS bisa melonjak dari US$12,3 miliar di 2023 jadi US$40 miliar di 2027, jika tren ini terus berlanjut dengan CAGR 32% Reality DefenderΑi Μoney Μatters.

Fenomena ini menjadi perhatian serius di dunia finansial karena deepfake bukan lagi sekadar hiburan di media sosial, tapi sudah merambah ke dunia keuangan dan bisa membahayakan aset nasabah serta reputasi bank.

Apa Itu Deepfake Di Perbankan?

Deepfake bank adalah istilah buat penyalahgunaan teknologi deepfake di dunia perbankan. Jadi, pelaku pakai gambar, video, atau suara palsu hasil AI untuk menipu sistem keamanan bank.

Bayangin, ada orang buka rekening online pakai identitas palsu. Dengan bantuan deepfake wajah, dia bisa niru tampilan orang lain dan lolos proses eKYC (electronic Know Your Customer). Ada juga yang lebih ekstrem, pakai deepfake suara buat nipu call center bank supaya nurut mentransfer dana.

Mengapa Deepfake Bank Berbahaya?

  1. Sulit Dibedakan dengan Asli
    Deepfake sekarang udah super realistis. Mata manusia aja sering gagal bedain mana asli, mana palsu. Jadi kalau cuma mengandalkan pengecekan manual, hampir mustahil bisa mendeteksi.
  2. Ancaman pada Keamanan Nasabah
    Begitu pelaku berhasil nembus sistem verifikasi biometrik, risiko yang mengintai bukan main, mulai dari data pribadi bocor sampai dana nasabah bisa dicuri.
  3. Kerugian untuk Bank
    Selain kerugian finansial, reputasi bank juga bisa runtuh. Nasabah bakal kehilangan rasa percaya kalau tahu sistem keamanan bank bisa ditembus dengan deepfake fraud.

Contoh Kasus Deepfake Di Perbankan

Kasus deepfake di dunia perbankan makin sering ditemuin. Misalnya:

  • Deepfake suara dipakai buat nelpon seolah-olah dari atasan, lalu minta transfer dana.
  • Deepfake wajah dipakai buat buka rekening online dengan identitas palsu, mencoba ngelabui sistem biometric verification.

Artinya, deepfake bank itu bukan ancaman masa depan lagi. Ini masalah nyata yang sudah terjadi sekarang.

Cara Bank Melindungi Diri dari Deepfake

Untuk ngehadapi ancaman ini, ada beberapa langkah yang bisa diambil:

  • Liveness Detection
    Teknologi ini bisa cek apakah wajah atau suara beneran dari manusia hidup, bukan hasil deepfake. Contohnya deteksi kedipan atau gerakan alami.
  • Multi-Factor Authentication (MFA)
    Jangan cuma andalkan biometrik. Tambahin lapisan lain kayak OTP, token, atau password dinamis biar lebih aman.
  • AI-based Fraud Detection
    Pakai machine learning buat mendeteksi pola aktivitas mencurigakan secara real-time.
  • Edukasi Nasabah
    Nasabah juga perlu diedukasi supaya lebih waspada, apalagi kalau tiba-tiba ada telepon, email, atau permintaan data pribadi yang mencurigakan.

Peran Verihubs dalam Mengatasi Deepfake pada Bank

Nah, di sinilah Verihubs bisa jadi solusi. Dengan teknologi AI-powered liveness detection dan fraud prevention system, Verihubs bantu bank melindungi diri dari ancaman deepfake fraud.

Beberapa fitur utama:

  • Face recognition dengan liveness detection
  • Voice verification dengan anti-spoofing
  • Real-time API untuk eKYC

Dengan teknologi ini, bank dan institusi finansial bisa lebih percaya diri menghadapi ancaman deepfake di industri perbankan.

Kesimpulan

Deepfake bank jadi tantangan baru di era digital. Teknologi yang awalnya dibuat untuk hiburan, sekarang bisa dipakai buat menipu sistem perbankan. Untungnya, dengan kombinasi AI fraud detection, liveness detection, dan kesadaran nasabah, ancaman ini bisa diminimalisir.

Bank gak bisa nunggu sampai jadi korban. Investasi di teknologi keamanan digital sekarang adalah kunci untuk jaga nasabah sekaligus mempertahankan kepercayaan.