Verihubs Logo
Home Blog Mengenal Fraud Triangle Model dan Faktor Penyebab Terjadinya Fraud
6 min read Deepfake Detection Published on January 18, 2026

Mengenal Fraud Triangle Model dan Faktor Penyebab Terjadinya Fraud

Mengenal Fraud Triangle Model dan Faktor Penyebab Terjadinya Fraud

Apa Itu Fraud Triangle Model?

Dalam pencegahan kecurangan (fraud) di perusahaan, lembaga keuangan, dan institusi pemerintahan, penting untuk memahami penyebab terjadinya fraud.

Salah satu konsep yang paling sering digunakan oleh auditor dan profesional risiko adalah Fraud Triangle Model.

Fraud Triangle Model adalah teori yang menjelaskan tiga elemen utama yang biasanya ada saat terjadi tindakan fraud.

Model ini diperkenalkan oleh Donald Cressey, seorang sosiolog Amerika. Cressey menemukan bahwa individu yang melakukan fraud umumnya melalui tiga fase psikologis sebelum mengambil keputusan jahat tersebut.

Dengan memahami model ini, perusahaan bisa membuat strategi pencegahan dan deteksi fraud yang lebih efektif. Model ini tidak hanya melihat ‘apa yang terjadi’, tapi juga ‘mengapa hal itu bisa terjadi’.

Komponen Utama dalam Fraud Triangle

Fraud Triangle Model memiliki tiga komponen utama:

1. Tekanan (Pressure)

Tekanan adalah dorongan atau kebutuhan dari dalam diri yang membuat seseorang mulai mempertimbangkan untuk melakukan fraud.

Contohnya, seseorang yang menghadapi tekanan finansial berat dapat terdorong untuk mengambil tindakan yang tidak sesuai demi memenuhi kewajiban keuangan. Tekanan dapat berupa:

  • Masalah keuangan pribadi atau target usaha yang terlalu tinggi
  • Kebutuhan mempertahankan gaya hidup atau tuntutan dari orang lain

Tekanan seperti ini bisa membuat seseorang mencari jalan pintas, termasuk melakukan kecurangan.

2. Kesempatan (Opportunity)

Kesempatan muncul ketika sistem internal perusahaan lemah, prosedur tidak ketat, atau pengawasan kurang. Contoh yang sering terjadi:

  • Akses tak terbatas ke data keuangan
  • Tidak ada pemisahan tugas (segregation of duties)
  • Kontrol internal yang kurang
  • Lemahnya sistem audit

Kesempatan adalah elemen yang paling mudah dikendalikan perusahaan dengan menerapkan kontrol yang efektif.

Contohnya, penerapan otorisasi ganda pada transaksi keuangan dan rekonsiliasi rutin dapat mencegah fraud.

Pengawasan rutin dan penggunaan software deteksi anomali juga membantu menemukan dan menangani potensi fraud lebih cepat.

3. Rasionalisasi (Rationalization)

Rasionalisasi adalah proses mental di mana pelaku mencari alasan untuk membenarkan tindakannya. Contohnya:

“Saya hanya meminjam uang ini, nanti saya bayar kembali.”
“Perusahaan punya banyak uang, ini tidak akan terlihat.”

Rasionalisasi membuat pelaku merasa tindakannya bisa dibenarkan, walaupun sebenarnya salah.

Apa alasan paling umum yang pernah Anda dengar di tempat kerja untuk membenarkan tindakan fraud?

Dengan mengenali dan membahas alasan yang sering muncul, perusahaan dapat menyadari serta mengubah norma yang mungkin mendukung tindakan fraud.

Langkah praktis seperti mengadakan lokakarya etika secara rutin atau menyediakan saluran pelaporan anonim bisa membantu perusahaan mengubah norma dan mengurangi rasionalisasi fraud.

Dengan cara ini, karyawan lebih paham pentingnya etika dan merasa aman untuk melapor.

Faktor Penyebab Terjadinya Fraud

Selain tiga komponen di atas, terdapat berbagai faktor lain yang sering menjadi pemicu terjadinya fraud:

1. Budaya Perusahaan yang Lemah

perusahaan tanpa budaya etika yang kuat memiliki risiko fraud lebih tinggi. Toleransi terhadap pelanggaran kecil dapat berkembang menjadi tindakan yang lebih besar.

2. Sistem Kontrol Internal yang Tidak Efektif

Tanpa kontrol seperti audit rutin, otorisasi transaksi, atau sistem pelaporan anonim, peluang terjadinya fraud akan meningkat.

3. Kurang Pemantauan Teknologi

Di era digital, muncul risiko baru berupa fraud berbasis teknologi. Sistem yang tidak cukup baik dalam memantau transaksi digital, login, atau aktivitas pengguna bisa menjadi celah.

4. Kurangnya Edukasi dan Pelatihan

Karyawan yang tidak paham tentang fraud, dampaknya, dan cara melaporkannya, lebih rentan terlibat, baik sengaja maupun tidak.

Contoh Penerapan Fraud Triangle dalam Kasus Nyata

Untuk memahami penerapan model ini, berikut ilustrasi kasus:

Contoh Kasus: Manipulasi Laporan Keuangan di Perusahaan X

  • Tekanan: Manajer merasa tertekan karena target laba yang sangat tinggi dari direksi.
  • Kesempatan: Tidak ada sistem audit internal yang kuat, satu orang menangani banyak fungsi sekaligus.
  • Rasionalisasi: Manajer beralasan bahwa “nilai sebenarnya akan kembali sesuai target akhir tahun.”

Akibatnya, manajer tersebut memanipulasi angka agar laba tampak meningkat, hingga akhirnya audit eksternal menemukan fraud tersebut.

Kasus ini menunjukkan bagaimana tiga elemen dalam Fraud Triangle bisa saling mendukung dan mendorong terjadinya fraud.

Peran Fraud Triangle dalam Pencegahan Fraud

Memahami teori ini membuat perusahaan lebih siap merancang strategi pencegahan fraud yang komprehensif.

Berikut beberapa cara praktis yang menggabungkan kontrol struktural dan kebiasaan perilaku:

1. Memperkuat Kontrol Internal

  • Pisahkan tugas yang saling berkaitan (segregation of duties)
  • Terapkan otorisasi ganda pada transaksi besar
  • Adakan audit berkala oleh tim independen

2. Mengurangi Tekanan pada Karyawan

  • Tetapkan target yang realistis
  • Berikan dukungan melalui jalur konseling atau bantuan keuangan

3. Mengatasi Kesempatan dengan Teknologi & Proses

Sistem keamanan digital seperti e-KYC, verifikasi identitas otomatis, dan pemantauan transaksi mencurigakan sangat penting, terutama untuk perusahaan fintech, e-commerce, dan layanan keuangan.

Solusi seperti yang ditawarkan Verihubs dapat membantu perusahaan memperkuat pencegahan fraud melalui verifikasi identitas real-time, e-KYC, dan teknologi anti-fraud modern.

Kesimpulan

Fraud Triangle Model adalah alat fundamental dalam pencegahan fraud.

Dengan memahami tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi, perusahaan dapat merancang kontrol internal yang lebih efektif dan memperkuat budaya etika.

Penting bagi setiap perusahaan untuk segera mengambil langkah konkret seperti meninjau ulang atau menjadwalkan penilaian risiko fraud secara berkala, untuk mencegah terjadinya fraud.

Tindakan proaktif ini akan memastikan bahwa sistem manajemen risiko fraud tetap relevan dan efektif dalam menghadapi tantangan di masa mendatang.

  • mendesain kontrol internal yang efektif
  • memperkuat budaya etika
  • menggunakan teknologi verifikasi & monitoring canggih

Solusi modern seperti Verihubs membantu perusahaan mengurangi risiko fraud melalui verifikasi identitas, e-KYC, dan alat pencegahan fraud digital.

FAQ tentang Fraud Triangle

1. Apa hubungan antara Fraud Triangle dan risiko fraud?
Fraud Triangle membantu perusahaan memahami faktor penyebab fraud sehingga mereka dapat mengurangi risiko melalui kontrol internal.

2. Bisakah fraud terjadi tanpa salah satu elemen Triangle?
Umumnya tidak. Ketiga elemen: tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi, hampir selalu hadir dalam tindakan fraud.

3. Apakah teknologi dapat mengurangi fraud?
Ya! Teknologi seperti e-KYC, verifikasi identitas, dan sistem monitoring transaksi membantu mengurangi kesempatan terjadinya fraud.

4. Apa peran budaya perusahaan dalam mencegah fraud?
Budaya yang kuat dengan nilai etika dan transparansi dapat meminimalkan rasionalisasi pelaku dan memberi saluran pelaporan yang aman.

5. Bagaimana audit internal membantu pencegahan fraud?
Audit internal mengevaluasi kontrol, menemukan celah, dan memberi rekomendasi sebelum fraud terjadi.

6. Mengapa karyawan rasionalisasi tindakan fraud?
Rasionalisasi muncul ketika pelaku membenarkan tindakannya, misalnya karena merasa tidak dihargai atau meremehkan konsekuensi.

Client Verihubs
Deteksi Face Swap dengan Deepfake Detection Verihubs
Coba GRATIS Sekarang
Lihat Blog