Verihubs Logo
Home Blog Deepfake: Pengertian, Cara Kerja AI, dan Cara Mencegahnya
6 min read Deepfake Detection Published on January 11, 2026

Deepfake: Pengertian, Cara Kerja AI, dan Cara Mencegahnya

Deepfake: Pengertian, Cara Kerja AI, dan Cara Mencegahnya

Coba bayangkan Anda menonton video seorang tokoh publik yang meminta sumbangan atau memberi arahan investasi. Wajah, suara, dan cara bicaranya tampak benar-benar asli.

Namun setelah dicek lebih lanjut, ternyata video itu palsu dan sengaja dibuat untuk menipu.

Memahami apa itu deepfake sangat penting agar kita tidak mudah menjadi korban penipuan digital.

Lonjakan Kasus Deepfake di Indonesia

Kasus deepfake di Indonesia terus meningkat di media sosial dan platform digital. Menurut laporan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), jumlah konten deepfake naik hingga 550% dalam lima tahun terakhir.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menekankan bahwa platform digital global sebaiknya menyediakan fitur verifikasi agar masyarakat bisa lebih mudah mengenali hoaks dan konten palsu yang dibuat oleh AI.

“Kita berharap platform media sosial global juga bisa melakukan filter, atau setidaknya menyediakan fitur untuk mengecek apakah sebuah konten buatan AI atau bukan. Fitur ini sebaiknya bisa digunakan publik secara gratis,” ujar Nezar Patria dalam acara Talkshow Bentara Nusantara di kantor RRI, Jakarta (09/09/2025).

Key Highlights

  • Deepfake adalah manipulasi berbasis AI yang meniru wajah, suara, dan ekspresi manusia dengan sangat realistis.
  • Teknologi GAN (Generative Adversarial Networks) memungkinkan AI membuat konten palsu yang makin sulit dibedakan dari asli.
  • Jenis umum deepfake: face swap, lip sync, voice cloning, dan body swap.
  • Risiko utamanya meliputi penipuan finansial, pencurian identitas, dan kerusakan reputasi.
  • Untuk mencegahnya, tingkatkan kewaspadaan terhadap jenis-jenis deepfake yang sering muncul dan lakukan verifikasi ulang dengan teknologi liveness detection.

Pengertian Deepfake dan Bagaimana Cara Kerjanya

Deepfake adalah teknologi yang memanipulasi gambar, video, atau suara dengan bantuan kecerdasan buatan (AI). Istilah deepfake sendiri berasal dari gabungan kata deep learning dan fake.

Teknologi ini membuat AI bisa menghasilkan tiruan digital wajah, suara, dan ekspresi seseorang dengan kemiripan yang sangat tinggi.

Deepfake belajar dari ribuan hingga jutaan data visual dan audio dari target yang ingin ditiru.

Sering kali, data tersebut diambil tanpa izin dari individu yang bersangkutan, sehingga menimbulkan kekhawatiran etis tentang pengumpulan data dan perlindungan privasi.

Karena menggunakan data dalam jumlah besar, hasil deepfake jadi semakin sulit dibedakan dari konten asli.

Sejarah Singkat Perkembangan Deepfake

Deepfake mulai dikenal masyarakat sekitar tahun 2017, saat komunitas online mulai membagikan video manipulasi wajah dengan algoritma neural networks.

Seiring kemajuan teknologi AI, kualitas deepfake semakin baik. Sekarang, hasil deepfake sering sulit dibedakan dari konten asli, terutama oleh orang awam.

Bagaimana AI Membuat Deepfake

AI membuat deepfake dengan pendekatan Generative Adversarial Networks (GAN). Metode ini melibatkan dua model AI yang saling berhadapan.

Model pertama bertugas membuat konten palsu seperti wajah atau suara. Model kedua bertugas menilai apakah konten tersebut asli atau palsu.

Kedua model ini terus belajar dan memperbaiki diri lewat proses berulang. Setiap kegagalan membuat sistem jadi lebih baik di iterasi berikutnya. Setelah ribuan hingga jutaan kali, sistem bisa menghasilkan konten yang sangat realistis.

Karena itu, deepfake menjadi ancaman serius bagi sistem verifikasi digital yang biasa digunakan.

Jenis Deepfake yang Paling Sering Digunakan

Dalam praktiknya, pelaku kejahatan siber sering menggunakan beberapa jenis deepfake berikut:

  • Face swap, yaitu menukar wajah seseorang dalam video dengan wajah orang lain secara penuh. Misalnya, face swap sering digunakan untuk menyudutkan figur publik dalam skenario kompromi atau skandal.
  • Lip sync, yaitu menyesuaikan gerakan bibir agar selaras dengan suara baru. Lip sync dapat digunakan dalam video permintaan sumbangan palsu dari seorang tokoh terkenal.
  • Voice cloning, yaitu meniru suara dan intonasi seseorang untuk membuat rekaman audio palsu. Voice cloning bisa mengakibatkan CEO fraud call, di mana suara palsu seorang pemimpin perusahaan digunakan untuk menipu staf keuangan agar mengalihkan dana.
  • Body swap, yaitu mengganti seluruh tubuh seseorang dalam video dengan tubuh orang lain. Body swap sering muncul dalam video-video yang bertujuan untuk mencemarkan nama baik atau memfitnah seseorang.

Jenis-jenis deepfake ini sering dipakai untuk penipuan finansial, pemerasan, dan penyebaran informasi palsu.

Risiko dan Dampak Deepfake bagi Individu dan Bisnis

Penyalahgunaan deepfake menimbulkan risiko besar. Deepfake sangat efektif menipu karena memanfaatkan kepercayaan orang pada visual dan suara.

Data menunjukkan bahwa konten manipulasi berbasis AI kini semakin sering digunakan dalam kasus disinformasi dan penipuan digital.

Dampak yang sering terjadi meliputi penipuan finansial lewat instruksi palsu, kerusakan reputasi individu atau pimpinan perusahaan, serta pencurian identitas yang bisa lolos dari sistem verifikasi wajah sederhana.

Untuk bisnis digital, risiko deepfake bisa menyebabkan kerugian finansial dan menurunnya kepercayaan pengguna. Studi terbaru menunjukkan rata-rata kerugian per insiden deepfake di sektor korporat bisa mencapai $250.000, sehingga penanganan cepat sangat diperlukan.

Cara Mencegah dan Mendeteksi Deepfake

Selalu waspada dalam setiap interaksi digital agar risiko menjadi korban deepfake bisa dikurangi.

Perhatikan detail seperti gerakan mata yang aneh, sinkronisasi bibir yang tidak pas, atau pencahayaan wajah yang berbeda dengan latar belakang. Jangan langsung memenuhi permintaan sensitif lewat satu saluran komunikasi saja.

Lakukan verifikasi ulang lewat panggilan langsung atau saluran resmi lainnya. Untuk keamanan lebih baik, bisnis sebaiknya memakai teknologi canggih seperti sistem deteksi penipuan berbasis AI untuk verifikasi data.

Pendekatan keamanan yang menyeluruh bisa meningkatkan perlindungan, memperkuat keamanan transaksi digital, dan membangun kepercayaan pelanggan.

Verihubs menawarkan solusi Liveness Detection yang bisa mendeteksi adanya manusia asli secara real-time, memastikan bahwa yang melakukan verifikasi adalah seorang manusia hidup dan bukan rekaman video atau hasil manipulasi AI.

Teknologi ini menganalisis respons biologis dan perilaku pengguna untuk memastikan kehadiran manusia asli. Pentingnya teknologi ini semakin terasa karena ancaman deepfake terus berkembang seiring kemajuan teknologi.

FAQ Seputar Deepfake

  • Apakah deepfake bisa dideteksi dengan aplikasi ponsel?

Saat ini, belum tersedia aplikasi ponsel yang mampu mendeteksi deepfake dengan akurasi 100%. Sistem deteksi yang lebih canggih umumnya tersedia dalam solusi keamanan untuk bisnis dan institusi.

Bila menggunakan deepfake untuk berbagai kejahatan seperti penipuan, mencemarkan nama baik, dan penyebaran hoaks itu sudah melanggar hukum di Indonesia.

  • Bagaimana cara membedakan suara asli dan deepfake?

Suara hasil AI sering tidak konsisten dalam pola intonasi, ada jeda yang aneh, atau emosi yang tidak sesuai dengan konteks pembicaraan.

  • Apa itu Deepfake?

Deepfake adalah teknologi AI yang memanipulasi video, gambar, atau suara agar terlihat nyata namun sebenarnya palsu.

  • Apakah deepfake ilegal?

Tergantung pada penggunaannya. Jika digunakan untuk merugikan orang lain, deepfake bisa melanggar hukum.

  • Apakah deepfake hanya berupa video?

Tidak. Deepfake juga bisa berupa audio dan gambar, bukan hanya video.

  • Siapa saja yang bisa menjadi korban deepfake?

Siapa pun, baik tokoh publik maupun masyarakat umum.

  • Apakah deepfake bisa dideteksi?

Bisa, walaupun semakin sulit seiring kemajuan teknologi.

  • Bagaimana cara mencegah penyalahgunaan deepfake?

Dengan regulasi dan edukasi, serta teknologi pendeteksi seperti Verihubs Deepfake Detection.

Client Verihubs
Deteksi Face Swap dengan Deepfake Detection Verihubs
Coba GRATIS Sekarang
Lihat Blog