Biometric Payment: Cara Kerja, Jenis, dan Risikonya
Biometric payment adalah metode pembayaran yang memakai ciri tubuh pengguna, seperti wajah, sidik jari, atau telapak tangan, sebagai pengganti kartu, PIN, atau ponsel. Pengguna mendaftarkan ciri tubuhnya sekali dan menghubungkannya ke metode bayar. Setelah itu, sistem mencocokkan ciri tersebut setiap kali pengguna membayar di kasir.
Apa Itu Biometric Payment?
Biometric payment, atau pembayaran biometrik, adalah transaksi yang otorisasinya bergantung pada ciri biologis pengguna. Teknologi biometric payment mengandalkan karakteristik fisik yang unik, misalnya pola wajah, guratan sidik jari, atau pembuluh darah di telapak tangan. Jadi, yang pengguna bawa ke kasir hanyalah tubuhnya sendiri.
Sebenarnya biometrik sudah lama hadir dalam pembayaran, tetapi biasanya hanya sebagai kunci ponsel. Saat pengguna membuka aplikasi bank dengan sidik jari, biometrik membuka akses ke ponsel, lalu ponsel yang menjalankan transaksi. Sebaliknya, biometric payment di kasir menjadikan ciri tubuh itu sendiri sebagai alat bayar, tanpa kartu atau ponsel.
Jenis Biometric Payment yang Paling Umum
Namun setiap modalitas biometrik punya kelebihan dan kebutuhan perangkat yang berbeda. Pilihannya pun bergantung pada lokasi dan siapa penggunanya.
| Modalitas | Perangkat di Kasir | Kelebihan | Catatan |
|---|---|---|---|
| Wajah (face pay) | Kamera atau tablet | Tanpa sentuhan, perangkat relatif murah | Butuh liveness agar tidak tertipu foto |
| Sidik jari | Sensor sidik jari | Familier bagi pengguna ponsel | Sensor perlu dibersihkan dan rawan aus |
| Telapak tangan | Pemindai telapak khusus | Pola pembuluh darah sulit ditiru | Namun perangkatnya lebih mahal dan belum umum |
| Iris | Kamera inframerah | Sangat khas per orang | Jarang untuk ritel karena biaya perangkat |
Untuk ritel di Indonesia, wajah juga paling realistis. Sebagian besar tempat sudah punya tablet atau kamera, sehingga investasi perangkatnya paling kecil daripada modalitas lain.
Cara Kerja Face Pay: Pendaftaran, Pencocokan, dan Konfirmasi
Saat ini, face pay adalah bentuk biometric payment yang paling banyak operator uji. Alurnya terdiri dari dua momen yang berbeda: pendaftaran sekali, lalu pembayaran berulang.
Tahap Pendaftaran
Pertama, pengguna memotret wajah lewat aplikasi atau di lokasi, lalu menghubungkannya dengan kartu, rekening, atau saldo. Pada tahap ini, sistem sebaiknya menjalankan liveness dan mencocokkan wajah dengan identitas resmi. Tanpa langkah itu, pelaku bisa menghubungkan kartu curian ke wajahnya sendiri.
Tahap Pembayaran
Kemudian di kasir, kamera menangkap wajah pelanggan dan sistem mencarinya di antara wajah yang terdaftar. Praktisi menyebut pencarian ke seluruh database sebagai pencocokan 1:N. Agar lebih aman, banyak operator mempersempit pencarian dengan nomor anggota atau nomor ponsel, sehingga pencocokannya menjadi 1:1. Setelah itu, layar menampilkan jumlah tagihan, dan pelanggan menekan tombol konfirmasi.
Biometric Payment vs Kartu vs QRIS
Di Indonesia, pembanding utama biometric payment adalah kartu dan QRIS. Namun masing-masing cocok untuk situasi yang berbeda.
| Aspek | Kartu | QRIS | Face Pay |
|---|---|---|---|
| Yang pelanggan butuhkan | Kartu fisik | Ponsel dengan aplikasi bank atau dompet digital | Wajah yang sudah terdaftar |
| Perangkat di kasir | Mesin EDC | Kode QR cetak atau di layar | Kamera atau tablet |
| Langkah pelanggan | Serahkan atau tempel kartu, lalu masukkan PIN | Buka aplikasi, pindai, isi jumlah, lalu konfirmasi | Lihat kamera, lalu konfirmasi |
| Risiko fraud utama | Kartu curian atau skimming | QR palsu dan aplikasi phishing | Wajah palsu dan salah cocok |
| Paling cocok untuk | Ritel umum | Ritel umum dengan pengguna dompet digital | Pelanggan yang sama dan sering datang |
Polanya pun jelas. Face pay unggul di tempat yang pelanggannya berulang, seperti kantin kantor, kampus, atau keanggotaan klub. Sebaliknya, face pay kurang berguna untuk pembeli sekali lewat, karena mereka harus mendaftar dulu.
Kelebihan dan Batasan Biometric Payment bagi Operator
Bagi operator yang tepat, biometric payment mengubah ekonomi kasir yang ramai. Namun manfaat itu perlu operator timbang terhadap pekerjaan yang menyertainya.
| Kelebihan | Batasan |
|---|---|
| Antrean lebih cepat karena pelanggan tidak mencari kartu atau ponsel | Setiap pelanggan harus mendaftar dulu |
| Kartu atau ponsel yang tertinggal tidak lagi menghambat transaksi | Kamera dan pencahayaan harus memadai |
| Program loyalitas bisa terhubung ke wajah yang sama | Sebagian pelanggan menolak menyerahkan data wajah |
| Risiko kartu curian dan skimming di kasir berkurang | Operator menanggung kewajiban pelindungan data biometrik |
Biometrik juga tidak selalu menjadi pilihan autentikasi terbaik untuk setiap transaksi. Perbandingannya dengan OTP dan kata sandi kami bahas di artikel autentikasi biometrik.
Contoh Penerapan Biometric Payment
Misalnya, salah satu contoh berskala besar datang dari jaringan kartu. Menurut siaran pers Mastercard pada Mei 2022, perusahaan itu meluncurkan Biometric Checkout Program untuk pembayaran dengan wajah dan telapak tangan. Uji coba pertamanya berlangsung di lima supermarket St Marche di São Paulo, Brasil, bersama Payface, menurut siaran pers yang sama.
Di Indonesia, penerapannya masih banyak berupa uji coba di lingkungan tertutup. Verihubs, misalnya, memperagakan vending machine face recognition di Mekari Conference 2024 di ICE BSD pada 10 September 2024. Saat itu, pengunjung cukup memindai wajah untuk menyelesaikan transaksi, tanpa kartu, uang tunai, atau ponsel.
Risiko Fraud dan Privasi dalam Biometric Payment
Wajah di kasir memang memudahkan pelanggan, tetapi juga menarik bagi pelaku penipuan. Operator perlu menyiapkan kontrol untuk empat risiko berikut sebelum peluncuran.
- Spoofing di terminal: pelaku menunjukkan foto atau memutar video pelanggan terdaftar. Karena itu, liveness detection di terminal adalah pertahanan utamanya, seperti kami jelaskan di artikel spoofing attack.
- Salah cocok: dua wajah mirip bisa tertukar, terutama dalam database besar. Mempersempit pencarian dengan nomor anggota mengubah pencarian 1:N menjadi 1:1 yang lebih aman.
- Fraud saat pendaftaran: pelaku menghubungkan kartu curian ke wajahnya sendiri. Namun pencocokan selfie dengan identitas resmi menutup celah ini.
- Privasi: data wajah termasuk data sensitif, sehingga pelanggan harus memberi persetujuan dan bisa menghapus pendaftarannya kapan saja.
Selanjutnya, aspek privasi juga punya dasar hukum. Pasal 4 Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi menempatkan data wajah dalam kelompok data spesifik. Akibatnya, operator perlu menetapkan dasar pemrosesan, masa simpan, dan pengamanan data wajah sejak awal, sesuai kewajiban dalam UU PDP.
Checklist Uji Coba Biometric Payment
Karena itu, operator yang baru mulai sebaiknya tidak langsung membuka face pay untuk semua pelanggan. Sebaliknya, uji coba kecil memberi data yang cukup untuk memutuskan perluasan.
- Pilih lokasi tertutup: mulai dari satu kantin atau kampus, sehingga sebagian besar pengguna cepat terdaftar.
- Verifikasi saat pendaftaran: jalankan liveness dan cocokkan selfie dengan identitas, lalu hubungkan metode bayar.
- Persempit pencocokan: pakai nomor anggota atau nomor ponsel bersama wajah, terutama saat pengguna bertambah.
- Tambahkan konfirmasi: tampilkan jumlah tagihan dan nama depan, lalu minta pelanggan menekan tombol setuju.
- Atur pencahayaan: hindari cahaya kuat dari belakang, lalu pasang kamera setinggi kepala.
- Sediakan alternatif: tetap terima kartu atau QRIS, karena tamu dan sebagian pengguna akan menolak face pay.
- Ukur setiap minggu: pantau tingkat keberhasilan cocok, waktu transaksi, salah cocok, dan permintaan hapus data sebelum memutuskan perluasan.
Face Pay dengan Teknologi Verihubs
Verihubs menerapkan face recognition untuk pembayaran di toko ritel, vending machine, dan loker. Alasan face recognition cocok untuk tugas ini kami uraikan di artikel payment authentication. Di balik layar, face recognition menangani pencocokan saat pendaftaran dan pencarian wajah di terminal, termasuk pencarian 1:N. Pada saat yang sama, liveness detection menolak foto dan video.
Selain pembayaran, operator juga bisa menghubungkan program loyalitas ke pemindaian wajah yang sama. Hasilnya, pelanggan langsung terkenali dan bisa menerima poin tanpa kartu anggota atau nomor ponsel.
Pertanyaan Umum tentang Biometric Payment
Teknologi biometric payment mengandalkan apa?
- Teknologi biometric payment mengandalkan ciri fisik yang unik pada setiap orang, seperti pola wajah, sidik jari, telapak tangan, atau iris. Sistem mencocokkan ciri itu dengan data yang pengguna daftarkan sebelumnya untuk mengotorisasi pembayaran.
Apakah biometric payment aman?
- Aman jika operator menutup risikonya. Kontrol utamanya adalah liveness detection di terminal, verifikasi identitas saat pendaftaran, pencocokan yang operator persempit dengan nomor anggota, dan langkah konfirmasi sebelum pembayaran berjalan.
Apa beda biometric payment dan fingerprint payment?
- Fingerprint payment adalah salah satu jenis biometric payment yang memakai sidik jari. Sementara itu, biometric payment adalah istilah umum yang mencakup wajah, telapak tangan, dan iris.
Apakah biometric payment sudah ada di Indonesia?
- Sudah, tetapi sebagian besar masih berupa uji coba di lingkungan tertutup seperti kantin, kampus, vending machine, dan acara. Sebaliknya, untuk ritel umum, kartu dan QRIS masih menjadi metode utama.
Apa yang terjadi pada data wajah pelanggan?
- Data wajah termasuk data pribadi spesifik menurut UU PDP. Sebagai pengendali data, operator wajib meminta persetujuan, menjelaskan tujuan pemrosesan, mengamankan datanya, dan menyediakan cara bagi pelanggan untuk menghapus pendaftaran.
Biometric Payment Paling Masuk Akal untuk Pelanggan yang Kembali
Biometric payment belum akan menggantikan kartu dan QRIS di semua tempat. Nilainya justru paling besar di lokasi dengan pelanggan berulang, tempat waktu antre dan kartu yang tertinggal menjadi masalah sehari-hari.
Jadi, kuncinya ada di dua titik: pendaftaran yang terverifikasi dan liveness di terminal. Rancang uji coba face pay Anda bersama tim Verihubs untuk memulai dari lokasi yang paling siap.