Mengenal Prinsip dalam Etika AI di Era Kekinian

etika ai

Seperti yang menjadi pengetahuan umum, pengembangan teknologi AI semakin hari semakin pesat. Masuknya AI ke dalam berbagai segmen kehidupan nyata-nyata membawa banyak pengaruh baik. Namun demikian, pengembangan ini tetap harus disertai dengan penerapan etika AI secara ideal, sehingga teknologi yang ada tidak kemudian melewati batas-batas kewajaran yang ada.

Sebagai pebisnis yang telah menggunakan teknologi ini di dalam sistem Anda, idealnya tentu pemahaman pada etika AI ini menjadi hal yang mendasar. Selain agar Anda tetap berada pada sisi yang benar terkait penggunaan dan pengembangan teknologi tersebut, juga agar Anda tahu kapan penerapannya dikatakan berlebihan dan dinilai tidak wajar.

Baca Juga: Inilah 3 Manfaat AI dalam Bisnis dan Rekomendasi Produknya

Tapi Apa yang Dimaksud Etika AI Itu?

etika ai

Etika AI dapat dipahami sebagai seperangkat panduan, nilai, dan aturan tidak tertulis yang dapat menjadi pegangan dalam pengembangan dan output dari teknologi AI itu sendiri. Nilai-nilai yang secara mendasar menjadi acuan evaluasi, apakah pengembangan dan pemanfaatan AI berada di arah yang benar atau salah.

Manusia sebagai makhluk hidup jelas memiliki banyak kekurangan alami. Keberadaan teknologi kemudian dimaksudkan agar banyak hal dapat dipermudah, sehingga output dari kerja manusia dapat menjadi semakin optimal.

Namun ketika teknologi yang digunakan sudah melebihi kapasitas manusia untuk mengendalikannya, maka evaluasi harus dilakukan. AI akan selalu menggunakan big data sebagai tempat ‘hidup’ dan ‘belajar’. Maka secara etis, manusia harus tetap dapat memegang kontrol pada aktivitas ini agar teknologi yang dapat berkembang dengan sendirinya ini tetap dapat dikendalikan.

Beberapa Prinsip Kunci yang Menjadi Pegangan dalam Etika Kecerdasan Buatan

etika ai

Dalam sebuah artikel yang diunggah di situs resmi IBM, disebutkan sedikitnya terdapat tiga prinsip yang menjadi pegangan pengembangan AI di masa sekarang. Prinsip ini berlaku pada proses riset teknologi AI, pengembangannya, dan eksperimen terkait teknologi ini.

Ketiganya adalah sebagai berikut.

  1. Respect for others, prinsip ini berpegang pada perlindungan otonomi yang dimiliki oleh publik, utamanya pada golongan masyarakat dengan otonomi yang berkurang akibat pengembangan AI. Berkurangnya otonomi ini bisa disebabkan karena kondisi tertentu, seperti penyakit, disabilitas mental, hingga pembatasan usia. Inti dari prinsip ini adalah konsep dari consent, yakni semua orang harus paham benar keuntungan dan risiko yang dihadapi ketika menggunakan teknologi ini. Seorang dapat memilih untuk turut serta, atau mundur dari penelitian atau eksperimen yang dilakukan.
  2. Beneficence, prinsip ini berdasarkan pada nilai perlindungan kesehatan, dimana seorang dokter diambil sumpahnya untuk ‘do not harm’ atau tidak menyakiti. Prinsip ini sangat berguna untuk menghadapi risiko bias yang muncul karena perbedaan yang ada, seperti ras, gender, sikap politik, dan lain sebagainya, sebab pengembangan AI idealnya selalu memiliki tujuan untuk kebaikan bersama.
  3. Justice, prinsip ini dipegang dalam rangka menghadapi masalah seperti fairness dan kesetaraan. Untuk membagi beban dan keuntungan dari pengembangan ini, kemudian terdapat sedikitnya lima kanal utama, yakni equal share, individual need, individual effort, societal contribution, dan merit.

Dalam artikel terpisah yang diterbitkan pada situs news.microsoft.com, setidaknya ada enam prinsip yang diungkapkan sebagai jantung pengembangan dan penyebaran solusi yang didukung AI.

  1. Privasi dan keamanan, seperti pada teknologi cloud lain, sistem AI harus mematuhi undang-undang privasi yang mengatur tentang pengumpulan, penggunaan, dan penyimpanan data, dan memastikan bahwa informasi pribadi yang digunakan sesuai dengan standar privasi dan dilindungi dari penyalahgunaan atau pencurian.
  2. Transparansi, karena AI semakin mempengaruhi kehidupans etiap orang, harus diberikan informasi kontekstual tentang bagaimana sistem AI beroperasi sehingga masyarakat dapat memahami bagaimana keputusan dibuat dan lebih mudah dalam mengidentifikasi potensi bias, kesalahan, dan hasil yang tidak diinginkan.
  3. Keadilan, ketika sistem AI membuat keputusan tentang perawatan medis atau pekerjaan, mereka harus membuat rekomendasi yang sama untuk semua orang dengan gejala atau kualifikasi serupa. Untuk memastikan prinsip keadilan ini, harus dipahami bagaimana bias dapat mempengaruhi sistem AI.
  4. Keandalan, sistem AI harus dirancang untuk dapat beroperasi dalam parameter yang jelas dan menjalani pengujian yang ketat untuk memastikan bahwa mereka merespon dengan aman dalam situasi yang tidak terduga, dan tidak berevolusi dengan cara yang tidak sesuai dengan ekspektasi.
  5. Inklusivitas, solusi AI harus dapat mengatasi berbagai kebutuhan dan pengalaman manusia melalui praktik desain yang inklusif dalam mengantisipasi hambatan potensial dalam produk atau lingkungan yang dapat secara tidak sengaja mengucilkan orang.
  6. Akuntabilitas, orang yang mendesain dan memasang sistem AI harus bertanggung jawab bagaimana sistem mereka beroperasi.

Manfaat dari Penerapan Etika Ini

etika ai

Secara umum, manfaat yang diperoleh dari penerapan etika-etika ini, baik dalam eksperimen atau dalam penerapannya secara praktis sebagai solusi, adalah sebagai berikut.

  • Senantiasa memegang kontrol akan perkembangan dan aktivitas AI yang ada
  • Memperoleh teknologi AI yang sepenuhnya berorientasi pada penyelesaian masalah, dan bukan menambah masalah baru
  • Memudahkan banyak pekerjaan manusia dengan berbagai sistem yang didukung dengan AI
  • Pengembangan dan penerapan AI dapat selalu dipertanggungjawabkan sesuai dengan hukum yang berlaku
  • Tersedianya regulasi yang ketat agar AI tidak disalahgunakan untuk kepentingan sepihak yang semata menimbulkan kerugian untuk orang lain

Dan lain sebagainya.

Baca Juga: Chatbot AI: Keunggulan dan Kegunaannya bagi Bisnis Anda 

Memegang prinsip dalam etika AI dalam pengembangan dan penerapannya harus selalu jadi yang utama untuk setiap bisnis dan pengembang sistem teknologi ini. Jelas, Verihubs sebagai salah satu perusahaan yang menggunakan AI dalam produk verifikasinya juga memegang teguh prinsip-prinsip tersebut. Dengan demikian, produk yang ditawarkan Verihubs dengan dukungan AI senantiasa bisa menjadi solusi untuk pebisnis, dalam meningkatkan kualitas layanannya secara bertanggung jawab dan sesuai regulasi yang berlaku. Untuk informasi lengkap terkait produk, Anda bisa menghubungi layanan Verihubs sekarang juga.

Artikel Terbaru Kami

ikd digital

Apa Itu IKD Digital? Verifikasi Identitas dengan Mudah!

pemasaran digital

Pemasaran Digital (Digital Marketing): Strategi dan Jenisnya

absensi digital sekolah

Studi Kasus: 4 Peranan Absensi Digital Sekolah dan Contohnya